BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Bangsa Indonesia terbentuk melalui
suatu proses sejarah yang cukup
panjang sejak dulu, mulai zaman
kerajaan Kutai, Sriwijaya, Majapahit, sampai datangnya bangsa-bangsa lain untuk
menguasai bangsa Indonesia. Beratus-ratus tahun Indonesia berjuang untuk
mencari jati dirinya sebagai suatu bangsa yang merdeka dan mandiri.
Setelah
melalui proses yang sangat panjang untuk mencari jati dirinya, bangsa Indonesia
yang didalamnya tersimpul ciri khas, sifat, dan karakter bangsa, yang berbeda
dengan bangsa lain, yang oleh para pendiri bangsanya merumuskan dalam suatu
rumusan yang sederhana namun mendalam, yang meliputi lima prinsip (lima sila)
yang kemudian disepakati bersama diberi nama Pancasila.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara dewasa ini terutama dalam masa reformasi,
bangsa Indonesia sebagai bangsa harus memiliki visi serta pandangan hidup yang
kuat agar tidak terombang-ambing di tengah masyarakat Internasional. Dengan
kata lain, bangsa Indonesia harus memilki rasa nasionalisme kebangsaan yang
kokoh, demi tercapainya ketahanan negara dari pihak luar. Selain hal tersebut,
bangsa Indonesia harus tetap mewaspadai ketahanan negeranya dari pihak dalam,
agar tidak terpecah-belah dalam menjaga jati dirinya sebagai suatu bangsa yang
memiliki aset berharga dalam keberagaman budaya, dalam kata lain harus
menciptakan dan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan yang utuh.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana perjlanan sejarah tentang
Bhineka Tunggal Ika sebagai bentuk identitas Bangsa Indonesia. Kapan pertama
ditetapkannya, penerapan Bhineka tunggal ika,
2. Bagaimana mengenalkan keBhinekaan
bangsa Indonesia kepada generasi muda saat ini.
C.
TUJUAN
Dengan
membaca makalah ini, penulis dan pembaca pada khususnya dapat memahami,
mengkhayati, dan mengamalkan makna-makna, kedudukan dan fungsi dari Somboyan
Bhinneka Tunggal Ika dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Saling
hormat-menghormati warga Indonesia tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan
budaya agar tercipta persatuan bangsa Indonesia. Perilaku kita pun akan terarah
sesuai norma-norma dan tertib hukum yang terkandung pada nilai-nilai
Pancasila.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Bhineka Tunggal Ika
1.
Sejarah Bhineka Tunggal Ika
Perumusan
Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa oleh Mpu Tantular pada dasarnya
pernyataan daya kreatif dalam upaya mengatasi keanekaragaman kepercayaan dan
keagamaan, sehubungan dengan usaha bina negara kerajaan Majapahit kala itu.
Telah memberikan nilai-nilai inspiratif terhadap sistem pemerintahan pada masa
kemerdekaan, telah sepenuhnya menyadari bahwa menumbuhkan rasa dan semangat
persatuan itulah Bhinneka Tunggal Ika - Kakawin Sutasoma (Purudasanta) diangkat
menjadi semboyan yang diabadikan lambang NKRI Garuda Pancasila. Awalnya, semboyan yang dijadikan semboyan resmi Negara Indonesia sangat
panjang, yaitu Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa. Semboyan Bhineka
Tunggal Ika dikenal untuk pertama kalinya pada masa Majapahit era kepemimpinan
Wisnuwardhana. Perumusan semboyan Bhineka Tunggal Ika ini dilakukan oleh Mpu
Tantular dalam kitab Sutasoma. Perumusan semboyan ini pada dasarnya merupakan
pernyataan kreatif dalam usaha mengatasi keanekaragaman kepercayaan dan
keagamaan. Hal itu dilakukan sehubungan usaha bina Negara kerajaan Majapahit
saat itu. Semboyan Negara Indonesia ini telah memberikan nilai-nilai inspiratif
terhadap sistem pemerintahan pada masa kemerdekaan. Bhineka Tunggal Ika pun
telah menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Jika diuraikan kata per kata, Bhineka berarti Berbeda, Tunggal berarti
Satu, dan Ika berarti Itu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa walaupun berbeda-beda,
tapi pada hakekatnya satu. Dengan kata lain, seluruh perbedaan yang ada di
Indonesia menuju tujuan yang satu atau sama, yaitu bangsa dan Negara Indonesia.
Semboyan Bhineka Tunggal Ika Tan
Hana Darma Mangrwa adalah ungkapan yang meamaknai kebenaran aneka unsur
kepercayaan pada Majapahit. Tidak hanya Siwa dan Budha, tapi juga seajumlah
aliran (sekte) yang sejak awal telah dikenal lebih dulu sebagian besar anggota
masyarakat Majapahit yang memiliki sifat majemuk. Sesuai makna semboyan
Bhinneka Tunggal Ika yang dapat diuraikan bhinna-ika- tunggal - ika berarti
berbeda-beda tetapi pada hakekatnya satu. Sebab meskipun secara keseluruhannya
memiliki perbedaan tetapi pada hakekatnya SATU, satu bangsa dan negara Republik
Indonesia. Frase Bhinneka Tunggal Ika telah
sama-sama diakui dan dirasakan mempunyai "kekuatan" untuk menyatukan,
mengutuhkan dan meneguhkan bangsa Indonesia yang majemuk atau disebut sebagai
salah satu sarana pengintegrasi bangsa Indonesia atau sebagai jatidiri bangsa
Indonesia.
2.
Penetapan Lambang Bhineka Tunggal Ika sebagai Pilar Bangsa Indonesia
Semboyan
Bhinneka Tunggal Ika diungkapkan pertama kali oleh Mpu Tantular, pujangga agung
kerajaan Majapahit yang hidup pada masa pemerintahan Raja Hayamwuruk, di abad
ke empatbelas (1350-1389). Sesanti tersebut terdapat dalam karyanya; kakawin
Sutasoma yang berbunyi “Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa,
“ yang artinya “Berbeda-beda itu, satu itu, tak ada pengabdian yang mendua.”
Semboyan yang kemudian dijadikan prinsip dalam kehidupan dalam pemerintahan
kerajaan Majapahit itu untuk mengantisipasi adanya keaneka-ragaman agama yang
dipeluk oleh rakyat Majapahit pada waktu itu. Meskipun mereka berbeda agama
tetapi mereka tetap satu dalam pengabdian.
Pada tahun
1951, sekitar 600 tahun setelah pertama kali semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang
diungkap oleh Mpu Tantular, ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai
semboyan resmi Negara Republik Indonesia dengan Peraturan Pemerintah No.66
tahun 1951. Peraturan Pemerintah tersebut menentukan bahwa sejak 17 Agustus
1950, Bhinneka Tunggal Ika ditetapkan sebagai semboyan yang terdapat dalam
Lambang Negara Republik Indonesia, “Garuda Pancasila.” Kata “bhinna ika,”
kemudian dirangkai menjadi satu kata “bhinneka”. Pada perubahan UUD 1945
yang kedua, Bhinneka Tunggal Ika dikukuhkan sebagai semboyan resmi yang
terdapat dalam Lambang Negara, dan tercantum dalam pasal 36a UUD 1945 yang
menyebutkan :”Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka
Tunggal Ika”. Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang
merupakan kesepakatan bangsa, yang ditetapkan dalam UUDnya. Oleh karena itu
untuk dapat dijadikan acuan secara tepat dalam hidup berbangsa dan bernegara,
makna Bhinneka Tunggal Ika perlu difahami secara tepat dan benar untuk
selanjutnya difahami bagaimana cara untuk mengimplementasikan secara tepat dan
benar pula. Berhasilnya
pemimpin bangsa kita untuk menggali dan menetapkan sebagai semboyan di dalam
bagian lambang negara adalah karya besar yang tak ternilai, tetapi ada
pertanyaan yang perlu diajukan, siapakah yang menempatkan semboyan tersebut
pada bagian lambang negara dan apa latar belakang pemikirannya?
Merujuk kepada keterangan Mohammad
Hatta, Bung Hatta Menjawab, 1979, disebutkan bahwa semboyan "Bhinneka
Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno, setelah merdeka semboyan itu diperkuat
dengan lambang yang dibuat Sultan Abdul Hamid Pontianak dan diresmikan
pemakaiannya oleh Kabinet RIS tanggal 11 Februari 1950. Istilah "ciptaan
Bung Karno" dalam pernyataan Mohammad Hatta di atas menurut hemat penulis
kurang tepat, karena dengan pernyataan itu memberikan pengertian, bahwa
semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno. Pernyataan ini juga
akan bertentangan dengan pidato Presiden Soekarno sendiri pada tanggal 22 Juli
1958 di Istana Negara yang menyatakan bahwa "di bawahnya tertulis seloka
buatan Empu Tantular "Bhinneka Tunggal Ika, Bhina ika tunggal ika –
berjenis-jenis tetapi tunggal".
Berdasarkan isi pidato Presiden
Soekarno di atas, semboyan itu adalah buatan Empu Tantular. Pernyataan ini
sejalan dengan hasil penyelidikan Mohammad Yamin, bahwa semboyan itu dinamai
seloka Tantular karena kalimat yang tertulis dengan huruf yang jumlah aksaranya
17 itu berasal dari pujangga Tantular yang mengarang kitab Sutasoma pada masa
Madjapahit pada abad XIV. Adapun arti seloka Jawa lama itu adalah walaupun
berbeda-beda ataupun berlainan agama
3. Penerapan Bhineka Tunggal Ika
Dalam menentukan peraturan berkaitan
dengan aktualisasi pemahaman nilai-nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an oleh
masyarakat multikultural sebagai pilar nasionalisme yang kokoh dan trengginas
dalam menghadapi perubahan globalKalimat yang terpampang pada pita putih yang
tercengkeram oleh kaki burung garuda, lambang negara Indonesia yaitu BHINNEKA
TUNGGAL IKA memiliki makna yang menggambarkan keragaman yang dimiliki bangsa
Indonesia, meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya merupakan satu kesatuan
Indonesia. Bhinneka tunggal ika yang berarti berbeda tetapi satu, bila ditengok
dari asal usul kalimatnya yang tertuang dalam syair kitab sutasoma adalah
penggambaran dari dua ajaran atau keyakinan yang berbeda kala itu, namun pada
dasarnya memiliki satu kesamaan tujuan.
Bangsa
Indonesia menjadikan Pancasila sebagai landasan ideologi yang berjiwa
persatuan dan kesatuan wilayah dengan tetap menghargai serta menghormati
ke-Bhinneka Tunggal Ika-an (persatuan dalam perbedaan) untuk setiap aspek kehidupan
nasional guna mencapai tujuan nasional. Artinya, sudah menjadi hal yang tidak
dapat dinafikan bahwa masyarakat Indonesia itu jamak, plural, dan daerah yang
beragam, terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, adat-istiadat dan kebiasaan,
agama, kepercayaan kekayaan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Oleh karena itu nilai-nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an harus diwujudkan dan
diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Implementasinya dalam kehidupan nasional adalah, memahami kemajemukan sosial
dan budaya atau multikulturalisme sebagai dasar untuk membangun kehidupan
bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Pemahaman terhadap nilai-nilai
ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dimaksud adalah menerapkan atau melaksanakan nilai-nilai
Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu,
kelompok masyarakat, dan bahkan secara nasional, mencakup kehidupan politik,
ekonomi, sosial dan budaya, serta pertahanan nasional di seluruh lapisan
masyarakat yang jumlahnya besar (sekitar 230 juta jiwa) dan beragam, sehingga
tercipta stabilitas nasional yang kondusif untuk pembangunan masyarakat
sejahtera, adil-makmur dan merata. Sangat beragam juga bila kita dapat
mengartikan bhinneka tunggal ika dalam perwujudan sehari-hari. Bhinneka
tunggal ika dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemui, namun untuk
memahaminya terkadang masih terasa sulit, apalagi mengakuinya. Ada ungkapan
yang menyatakan “perbedaan adalah rahmat” dan inipun terkadang menjadi bahan
perdebatan.
Matahari
dan bulan itu berbeda akan tetapi saling menerangi bumi, siang dan malam itu
berbeda tetapi saling melengkapi hari, laki-laki dan perempuan beda tapi saling
mengisi dalam kehidupan, salah dan benar, baik dan buruk yang Tuhan ciptakan
tentu tidak dapat disangkal, lalu mengapa Tuhan ciptakan itu semua? Apabila
perbedaan itu seharusnya tidak perlu ada, apakah kemudian kita berpikir
bagaimana sebaiknya Tuhan? Mengakui perbedaan terkadang terasa sulit seperti
halnya mengakui kebenaran orang lain daripada melihat sisi salahnya. Tangan dan
kaki, telinga dan mata, yang kanan dan kiri memiliki bentuk dan fungsi yang
berbeda tetapi saling menyempurnakan bentuk manusia itu secara utuh. Ketika
dalam satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya masing-masing
memiliki perbedaan pendapat apakah itu tidak boleh? dan apabila si anak
memiliki keinginan yang bertentangan dengan orang tuanya apakah kemudian
menjadikan terputusnya hubungan darah? Kemudian apabila alam semesta yang
beraneka ragam ini tercipta karena adanya hubungan Tuhan dengan ciptaan-Nya,
apakah akan menjadikan putusnya hubungan, apabila ciptaan tidak mengakui
penciptanya? Perbedaan adalah kenyataan yang tidak bisa terelakan lagi, mulai
dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara atau dunia.
Ada
beberapa cara untuk menjadikan Bhinneka Tunggal Ika lebih membumi dalam pribadi
masyarakat yang heterogen ini, salah satunya yaitu dengan identitas
sosial mutual differentiation model dari Brewer & Gaertner
(2003) yang diterapkan pada diri setiap Individu dalam bangsa ini. Mutual
differentiation model adalah suatu model dimana seseorang atau
kelompok tertentu yang mempertahankan identitas asal (kesukuan atau daerah)
namun secara bersamaan kesemua kelompok tersebut juga memiliki suatu tujuan
bersama yang pada akhirnya mempersatukan mereka semua.
Adapun
fungsi Bhineka Tunggal Ika yaitu ada lima yaitu:
1) mempersatukan bangsa Indonesia yang
terdiri dari bermacam-macam suku, ras, dan agama ;
2) menghambat semua konflik yang
didasari atas kepentingan pribadi atau kelompok ;
3) mempertahankan kesatuan bangsa
Indonesia ;
4) mewujudkan cita-cita luhur bersama ;
5) mewujudkan masyarakat madani ;
6) mewujudkan perdamaian Indonesia.
B.
mengenalkan keBhinekaan bangsa
Indonesia kepada generasi muda
Dari sejarah Bhineka Tunggal Ika
diatas dapat kita simpulkan bahwa dalam rancangan pembuatan lambang negri dan
memasukan semboyan Bhineka Tunggal Ika didalamya merupakan suatu perjuangan,
pemikiran keras, dan berbagai upaya keras yang sudah dilakukan untuk bangsa dan
negara RI. Sudah selayaknya kita sebagai generasi muda bisa menghargai bahkan
meneruskan cita-cita luhur dari para pendiri angsa ini, oleh sebab itu marilah
kita tanamkan sifat patriotisme dalam diri kita untuk lebih mencintai negri ini
lebih dari para perjuangan yang telah
memperjuangkannya, marilah kita melanjutkan tongkat estafet para pejuang untuk
menghargai usaha mereka dalam merebut kemerdekaan negri ini. Marilah kita
sebagai generasi muda menanamkan rasa keBhinekaan dalam diri kita untuk membuat
kita kaya. Kaya akan perbedaan kaya akan budaya, adat istiaat agama, ras, suku
bangsa, bahasa namun tetap bisa hidup rukun dalam kehidupan bermasyarakat,
bangsa dan negara.
Marilah kita sebagai generasi muda
lebih menggali potensi diri kita dengan keberagaman bangsa kita, agar kita bisa
menjadi bangsa yang berkarakter mempunyai chiri khas, mempunyai daya saing
dengan bangsa lain marilah kita menjadi generasi yang membuat bangsa kita
menjadi suatu pribadi bangsa yang mandiri, yang bisa memFiler budaya asing yang
masuk, agar kita bisa menjadi generasi bangsa yang menunjukan kepribadian,
keragaman, perbedaan bangsa kita sebagai suatu kesatuan bangsa yang
menghasilkan karyanya sendiri. Dan pada akhirnya kita akan menjadi bangsa yang
ditiru, bukan suatu bangsa yang meniru gaya dan budaya dari bangsa lain, karena
pada hakekatnya budaya kita tidak kalah saing dengan apa yang ada dengan budaya
asing. Bahkan yang kita lihat pada saat ini budaya yang ada di indonesia sudah
banyak ditiru dan diterapkan dinegara asing.
Implementasi
Bhineka Tunggal Ika dan Cita-Cita Luhur Bangsa Indonesia
Untuk
dapat mengimplementasikan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara dipandang perlu untuk memahami secara mendalam prinsip-prinsip yang
terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai
berikut :
1.
Dalam
rangka membentuk kesatuan dari keaneka ragaman tidak terjadi pembentukan konsep
baru dari keanekaragaman konsep-konsep yang terdapat pada unsur-unsur atau
komponen bangsa. Suatu contoh di negara tercinta ini terdapat begitu aneka
ragam agama dan kepercayaan. Dengan ke-tunggalan Bhinneka Tunggal Ika tidak
dimaksudkan untuk membentuk agama baru. Setiap agama diakui seperti apa adanya,
namun dalam kehidupan beragama di Indonesia dicari common denominator,
yakni prinsip-prinsip yang ditemui dari setiap agama yag memiliki kesamaan,
dan common denominator ini yang kita pegang sebagai
ke-tunggalan, untuk kemudian dipergunakan sebagai acuan dalam hidup berbangsa
dan bernegara. Demikian pula halnya dengan adat budaya daerah, tetap diakui
eksistensinya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan
kebangsaan. Faham Bhinneka Tunggal Ika, yang oleh Ir Sujamto disebut sebagai
faham Tantularisme, bukan faham sinkretisme, yang mencoba untuk mengembangkan
konsep baru dari unsur asli dengan unsur yang datang dari luar.
2.
Bhinneka
Tunggal Ika tidak bersifat sektarian dan eksklusif; hal ini bermakna bahwa
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan merasa dirinya yang
paling benar, paling hebat, dan tidak mengakui harkat dan martabat pihak lain.
Pandangan sektarian dan eksklusif ini akan memicu terbentuknya keakuan yang
berlebihan dengan tidak atau kurang memperhitungkan pihak lain, memupuk
kecurigaan, kecemburuan, dan persaingan yang tidak sehat. Bhinneka Tunggal Ika
bersifat inklusif. Golongan mayoritas dalam hidup berbangsa dan bernegara tidak
memaksakan kehendaknya pada golongan minoritas.
3.
Bhinneka
Tunggal Ika tidak bersifat formalistis yang hanya menunjukkan perilaku semu. Bhinneka
Tunggal Ika dilandasi oleh sikap saling percaya mempercayai, saling hormat
menghormati, saling cinta mencintai dan rukun. Hanya dengan cara demikian maka
keanekaragaman ini dapat dipersatukan.
4.
Bhinneka
Tunggal Ika bersifat konvergen tidak divergen, yang bermakna perbedaan yang
terjadi dalam keanekaragaman tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi dicari titik
temu, dalam bentuk kesepakatan bersama. Hal ini akan terwujud apabila
dilandasi oleh sikap toleran, non sektarian, inklusif, akomodatif, dan rukun.
5.
Prinsip
atau asas pluralistik dan multikultural Bhinneka Tunggal Ika
mendukung nilai:
1.
inklusif,
tidak bersifat eksklusif,
2.
terbuka,
3.
ko-eksistensi
damai dan kebersamaan,
4.
kesetaraan,
5.
tidak
merasa yang paling benar,
6.
toleransi,
7.
musyawarah disertai
dengan penghargaan terhadap pihak lain yang berbeda
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Sejarah Bhinneka Tunggal Ika berawal
dari kitab Sutasoma karya Mpu Tuntular, yang artinya berbeda-beda namun satu
jua. Berhasilnya pemimpin bangsa kita untuk menggali kitab tersebut dan
menetapkan sebagai semboyan di dalam bagian lambang negara adalah karya besar
yang tak ternilai. Merujuk kepada keterangan Mohammad Hatta dalam 1979,
disebutkan bahwa semboyan "Bhinneka Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno,
setelah merdeka semboyan itu diperkuat dengan lambang yang dibuat Sultan Abdul
Hamid Pontianak dan diresmikan pemakaiannya oleh Kabinet RIS tanggal 11
Pebruari 1950.
Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan
dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Kata bhinneka berarti
"beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata “nek”a dalam bahasa
Sanskerta berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata
"aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti
"satu". Kata ika berarti "itu".
Fungsi Bhinneka Tunggal Ika ada
lima, yaitu : 1) mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari
bermacam-macam suku, ras, dan agama ; 2) menghambat semua konflik yang didasari
atas kepentingan pribadi atau kelompok ; 3) mempertahankan kesatuan bangsa
Indonesia ; 4) mewujudkan cita-cita luhur bersama ; 5) mewujudkan masyarakat
madani ; 6) mewujudkan perdamaian Indonesia.
Adapun
penetapan Bhineka Tunggal Ika adalah Pada tahun 1951, sekitar 600 tahun setelah
pertama kali semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diungkap oleh Mpu Tantular,
ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai semboyan resmi Negara Republik
Indonesia dengan Peraturan Pemerintah No.66 tahun 1951. Peraturan Pemerintah
tersebut menentukan bahwa sejak 17 Agustus 1950, Bhinneka Tunggal Ika
ditetapkan sebagai semboyan yang terdapat dalam Lambang Negara Republik
Indonesia, “Garuda Pancasila.” Kata “bhinna ika,” kemudian dirangkai
menjadi satu kata “bhinneka”.
Penerapan
bhineka tunggal ika adalah dapat diberikan contoh Matahari dan bulan itu berbeda akan
tetapi saling menerangi bumi, siang dan malam itu berbeda tetapi saling
melengkapi hari, laki-laki dan perempuan beda tapi saling mengisi dalam
kehidupan, salah dan benar, baik dan buruk yang Tuhan ciptakan tentu tidak
dapat disangkal, lalu mengapa Tuhan ciptakan itu semua? Apabila perbedaan itu
seharusnya tidak perlu ada, apakah kemudian kita berpikir bagaimana sebaiknya
Tuhan? Mengakui perbedaan terkadang terasa sulit seperti halnya mengakui
kebenaran orang lain daripada melihat sisi salahnya. Tangan dan kaki, telinga
dan mata, yang kanan dan kiri memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda tetapi
saling menyempurnakan bentuk manusia itu secara utuh. Ketika dalam satu
keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya masing-masing memiliki
perbedaan pendapat apakah itu tidak boleh? dan apabila si anak memiliki
keinginan yang bertentangan dengan orang tuanya apakah kemudian menjadikan
terputusnya hubungan darah? Kemudian apabila alam semesta yang beraneka ragam
ini tercipta karena adanya hubungan Tuhan dengan ciptaan-Nya, apakah akan
menjadikan putusnya hubungan, apabila ciptaan tidak mengakui penciptanya?
Perbedaan adalah kenyataan yang tidak bisa terelakan lagi, mulai dalam diri
sendiri, keluarga, masyarakat, negara atau dunia.
Prinsip-prinsip Bhinneka Tunggal Ika
yaitu tidak bersifat sektarian dan eksklusif, bersifat konvergen tidak
divergen, dan tidak bersifat formalistis.
Berdasarkan Prinsip-prinsipnya,
Implementasi Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegera,
yaitu : 1) perilaku inklusif ; 2) mengakomodasi sifat pluralistic ; 3) tidak
mencari menangnya sendiri ; 4) usyawarah untuk mencapai mufakat ; 5) dilandasi
rasa kasih sayang dan rela berkorban. Selain itu iplementasi yang lain, yaitu
Implementasi dalam relasi antar suku bangsa dan Implementasi dalam relasi
negara dan agama.
Mengenalkan keBhinekaan pada
generasi muda dengan cara menggali potensi diri kita dengan keberagaman bangsa
kita, agar kita bisa menjadi bangsa yang berkarakter mempunyai chiri khas,
mempunyai daya saing dengan bangsa lain marilah kita menjadi generasi yang
membuat bangsa kita menjadi suatu pribadi bangsa yang mandiri, yang bisa
memFiler budaya asing yang masuk, agar kita bisa menjadi generasi bangsa yang
menunjukan kepribadian, keragaman, perbedaan bangsa kita sebagai suatu kesatuan
bangsa yang menghasilkan karyanya sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
https://coretanandrea.wordpress.com/2013/11/03/323/
http://taufiqrasak.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pancasila-semboyan-bhinneka.html
LuckyClub Casino Site: Get Up To €500 Welcome Bonus
BalasHapusLuckyclub Casino site has over 800 gaming games with huge jackpots, top-notch luckyclub casino promotions and a lot more. This is an